Ketoprak adalah seni drama tradisional yang berasal dari Jawa Tengah. Kesenian ini lahir di Surakarta dan berkembang pesat di Yogyakarta, sehingga sering juga disebut dengan ketoprak Mataram.
Ketoprak pada awalnya merupakan permainan rakyat yang dilakukan oleh anak-anak pada waktu bulan purnama dengan iringan alat musik lesung. Permainan ketoprak selain bersifat hiburan sebenarnya juga mempunyai makna religius. Ketoprak yang dimainkan dengan alat musik lesung berirama kotekan, dipercaya mampu membuat Dewi Sri turun ke bumi. Dewi Sri oleh sebagian petani Jawa dianggap sebagai lambang kesuburan.
Seni ketoprak dahulu hanya dipertunjukkan di lingkungan keraton saja. Baru pada tahun 1922 di masa Keraton Mangkunegaran di Surakarta, kesenian ini mulai bisa dinikmati oleh umum. Saat itu, pementasannya masih sangatlah sederhana dengan diiringi oleh gamelan lesung, alu, kendang dan seruling. Ketoprak lebih mudah digemari masyarakat karena ceritanya seputar kehidupan kerajaan atau keraton (http://encyclopedia.jakarta-tourism.go.id/post/ketoprak--seni-pertunjukan?lang=id).
Kelompok Kesenian Ketoprak Wahyu Budoyo Dusun Gondang Candiroto menjadi salah satu potensi berkesenian di Desa Candiroto. Kelompok kesenian ini digawangi oleh Bpk. Romadon, Kadus Gondang. Pada awal mulanya, kelompok ini terbentuk karena keinginan kaum tua Dusun Gondang untuk nguri-nguri budoyo di Dusun Gondang.
Lewat panggung-panggung lingkup dusun, kemudian merambah di panggung pertunjukkan di skala desa, Kelompok Ketoprak Wahyu Budoyo Gondang Candiroto mulai menapaki langkah keseriusannya. Puncaknya ketika dipercayai oleh Pemerintah Desa Candiroto untuk membuka event Expo Desa Candiroto pada tahun 2019.
Kedepan, Ketoprak Wahyu Budoyo Gondang Candiroto berharap banyak pada masyarakat Candiroto pada umumnya untuk bersama-sama mengangkat kesenian Ketoprak rakyat hingga kesenian ketoprak akhirnya kembali diterima menjadi bentuk pertunjukkan yang digemari seperti zaman dulu.
Form Komentar